Sunday, May 09, 2004

Fenomena "Reality Show"

2nd : A-EF-I
Gak terasa, hampir 2 minggu saya gak sempat ngurusi mainan saya yang baru, blog ini. Kalau dibilang gak punya waktu, itu klise. Waktu itu gratis, sudah disediakan oleh Tuhan buat kita semua sama, sehari 24 jam! Bedanya, rela tidaknya kita menempatkan satu urusan/kepentingan disela-sela waktu yang ada. Soalnya kalau dipaksa-paksa, pasti tetap ada waktu untuk satu atau lain hal. Kebetulan belakangan ini saya memang sedang tidak bisa mengorbankan waktu saya, itu saja!

Niatnya sih , pingin titipin beberapa file dibeberapa penyedia penitipan file gratisan, terus juga membenahi halaman ini, biar lebih lengkap lagi. Tapi ya itu tadi, ya saya gak bisa korbankan waktu saya untuk hal ini. Sementara ini, saya masih punya waktu untuk menambah sedikit catatan kecil malam ini, sekedar membuktikan bahwa page ini masih tak rumat.



Sabtu, 8 Mei 2004

Malam ini, baru saja saya selesai menonton tayangan AFI Indosiar, jadi mau malu ikutan ngerame-in acaranya anak muda, he..he..he.. Beberapa bulan terakhir memang salah satu aktifitas rutin saya setiap malam minggu, ya nongkrongin channel-nya Indosiar mulai jam 8 malam, gak pindah-pindah… ! Paling-paling pindah bentaran ke chanel lain kalau pas jeda iklan. (gile ye, segitunya…, ketularan demam AFI, hua..ha..ha…) Cuma bedanya malem ini, share dengan TransTV, nonton bulutangkis, tim Thomas Indonesia-AS. Terus bedanya lagi, bisa-bisanya malam ini, nih air-mata kok ya ikut-ikutan nyerobot nongol didepan ti-vi di penghujung acara, tepatnya pas pengumuman eliminasi. Hik..hik..hik…nangis lho maksudnya!

Seingat saya sih dari berkali-kali nonton Konser AFI , gak pernah tuh, airmata ikutan gabung. Gak tahu, mungkin perasaan saya memang pas lagi mengharu biru atau acaranya yang memang bagus, bisa mengacak dan mengaduk-aduk emosi penonton. Yang jelas, malam ini kamerawan acara itu memang kelihatan lebih sabar dan telaten menyoroti luapan emosi si akademia yang tereliminasi dan sentimen emosi seluruh penonton yang ada disana. Mulai dari sedu sedan sesama rekan akademia, histeria para penonton dari anak kecil sampai ibu-ibu, sampai lelehan air mata staf pengajarnya yang juga ikut bercucuran, dipamerin habis oleh kru-kamerawannya. Hebat!!!! Semua yang nonton, bisa ikut-ikutan involve pada satu perasaan yang sama. Bisa jadi detik-detik atau menit-menit itu mereka lupa dengan masalahnya sendiri, yang mungkin lebih parah atau lebih complicated dari sekedar perasaan tereliminasi. Sensasi perasaan yang ditimbulkan memang cuma terasa pada beberapa detik atau menit saat itu, tapi efeknya, wow..!!!Demam AFI..!

Bayangkan, berapa banyak ABG yang tiba-tiba getol ikut-ikutan jadi penyanyi dadakan, berapa banyak tabloid yang tiba-tiba punya begitu banyak bahan untuk memenuhi isi tabloidnya, berapa banyak orang-orang yang dengan sukarela merogoh kocek buat sekedar mengikuti liputan tulisan tentang para akademia di media-media cetak, atau berapa banyak orang yang dengan sukarela meluangkan waktu buat sekedar nonton konser baik langsung maupun di televisi, sampai akhirnya berapa banyak orang yang serta merta juga ikut-ikutan membeli kaset ataupun CD-nya. Gila, ya! Bayangin, uang yang beredar akibat dari acara ini. Kalau dipikir, gak susah ya cari duit, yang bodo ujung-ujungnya ya kita-kita yang ikut-ikutan beli tabloid, atau beli kaset/CD-nya. Kalau sekedar nonton TV, bolehlah.. relatif gak perlu biaya, toh sudah dibayar oleh pemasang iklan di slot acara itu.

Terus terang, saya gak gitu ngeh dengan efek dari acara ini, sampai suatu saat anak saya bilang kepingin punya album AFI seperti yang dimiliki temannya. Saya fikir yang namanya album, ya kumpulan foto. Gampang aja, saya langsung buka komputer, colok kabel modem ke jack telpon, masuk kesitusnya Indosiar, truss.., nemu dong foto-foto para akademia beserta info singkatnya, tinggal copy–paste, selesailah albumnya. Ternyata bukan itu. (Wah, saya memang terlalu creative!) Anak saya bilang album itu ya CD dan VCD-nya AFI, gak cukup sekedar foto! Saya lupa, bahwa kata-kata Album bisa juga berarti keping kaset, CD atau VCD yang berisi kumpulan lagu-lagu, dari seorang atau berapa artis. Oalaaahhhh...
Masih untung dia gak minta ikutan nonton Konser AFI seperti yang dilakukan oleh temannya bersama orang-tuanya!

Thursday, April 29, 2004

What's in A Name

1st : What's in a name
Ini "Curhat" saya yang pertama, betul-betul pengalaman pribadi.


What's in a name...

Setiap orang pasti punya nama.
Jangan tanya kenapa orang harus punya nama, ribet ntar nulisnya, teori melulu...
Juga jangan tanya, arti.
Bejibun, dari arti harfiah sampai arti kiasan, dari arti sungguhan sampai improvisasi, ngarang seenak udelnya.
Tapi coba bayangkan gimana pengaruh nama terhadap kehidupan kita sendiri.

Mbok Pariyem, di pedalaman gunung kidul sana cuma memilih Carsinem untuk menyebut anak perempuannya, Alm. Syumanjaya sutradara tenar jaman jebot, memilih Djenar Maesa Ayu, untuk putrinya yang cantik, Andre Hehanusa, menamakan Putra Pertama Hehanusa, untuk anak lelakinya yang pertama, sementara Melly Goeslaw menyebut Anakku Lelaki Hoed, untuk putra pertamanya. Seniman wajar donk memilih sesuatu yang nyentrik untuk atribut diri maupun keluarganya. Mungkin karena terkondisikan untuk memilih sesuatu yang tidak biasa, yang nyeleneh, supaya beda.

Lain lagi, si Rek, gak jelas siapa nama dia yang sesungguhnya, mungkin Arek, dari arek-arek Suroboyo, atau Rekoso karena nasibnya yang ndilalah koq rekoso tenan, office boy kantor saya, mungkin karena kesengsem berat sama artis Maudy Koesnadi menempelkan nama pada bancakan anak pertamanya dengan nama Maudy. Entah ada hubungannya atau tidak, koq ya kebeneran anaknya sakit-sakitan melulu, mulai dari umbel-nya yang meler melulu, panasnya yang turun naik, sampai maaf, mencret-mencret, yang terpaksa membuat dia sering bolos kerja. Seorang teman langsung saja nyemprot si Rek ini, dengan kecaman-kecaman konyol, Lu si Rek, kasih nama kebagusan, gak nyebut!

Memang soal nama yang kebagusan kadang-kadang bikin kita geli sendiri. Dulu sewaktu SMP, setiap awal pelajaran selalu dimulai dengan absen. Mulailah, satu persatu nama disebutkan oleh guru, dan kita pasti langsung mencari dan melihat sumber suara yang menyebut Ada Bu, atau Hadir Pak , sambil menghubungkan nama-nama tersebut dengan tampilan fisiknya. Tono, ah.. standar, Benny,ee.. lumayan, Fenny, mm..lumayan manis, Togar, ih..Batak kali tampangnya, sampai-lah dengan suatu nama Margareta, wah pasti cantik nih.., semua anak-anak menoleh, mencari-cari si-empunya nama, dan hkk..hkkk, hampir semua menahan ketawa, termasuk guru, jauh akar dari pohon, maksudnya nama yang indah gak selalu berarti juga tampilan fisik nan elok. Kurang ajar juga mereka yang mentertawakan orang lain. Gak sopan!

Tapi susah juga punya nama yang biasa alias standar-standar saja. Gak tahu kenapa, karena saya tidak pernah berani tanya ke Ibu saya, nama saya adalah gabungan dari 3 anak pakde saya, Endang, Sri dan Nuryanti. Susahnya lagi, semua nama pasaran banget. Gara-gara nama juga tetangga depan rumah saya sampai dibikin repot menahan teriakan, karena ternyata pembantu barunya namanya Endang, gak lucu-kan kalau dia teriak-teriak Ndang, ambilkan pispot, adek, sementara saya dengan santainya duduk-duduk diteras depan rumah saya.
Juga tetangga belakang rumah saya, ndilalah kok pembantunya namanya Endang juga, yang ini sebenarnya saya gak tahu, kalau tidak kebeneran pas acara pengajian dirumahnya, tiba-tiba tetangga saya bilang, Ndang tolong keluarin air minumnya. Saya pikir koq iseng banget nih oramg nyuruh-nyuruh saya, begitu melihat saya bengong, baru dia bilang Maaf Bu Endang, maksud saya pembantu saya, Untung sampai saat ini belum ada pembantu saya yang namanya Endang. Wes pokoknya requirement untuk calon pembantu yang akan bekerja pada saya, nama tidak boleh sama, bisa berabe urusannya nanti. Nasib-nasib!

Masih ada hubungannya dengan Endang juga, waktu SMP kelas satu dulu, ada anak laki-laki yang namanya Joko, namanya juga ABG, semua anak-anak mengolok-olok Joko pacar Endang, sementara saya sebel setengah mati, karena saya memang gak suka. Saking gak sukanya saya lalu mencari tahu orang yang namanya Endang jodohnya siapa (namanya juga anak-anak!), ternyata gak jauh-jauh, ada tetangga rumah orang tua saya, si perempuan namanya Endang dan suaminya.. Joko!. He.., makin gak suka dong sama si Joko-temen SMP itu. Lantas ketika SMA, sahabat saya ternyata mamanya bernama Endang dan suaminya.. Joko Pramono, salah satu petinggi disebuah departemen. Suatu kebetulan yang bener-bener mengusik akal sehat saya..
Sampai akhirnya, ketika saya mulai mendapat job-job menjelang akhir studi saya di perguruan tinggi, disalah satu kantor, seorang teman mengenalkan saya dengan seorang yang bernama.. Joko!. Dengan Joko inilah akhirnya saya benar-benar menyerah dan menerima nasib bahwa jodohnya Endang, ya Joko! Sampai sekarang, 10 tahun sudah kami berjodoh. ***


Esha dan Raihan, dari yang biasa-biasa bukan tidak mungkin ada yang luar biasa

Wednesday, April 28, 2004

Interesting Fact

Interesting Fact :

Mere Coincidence or Something Deeper?

Consider this...

Abraham Lincoln was elected to Congress in 1846.
John F. Kennedy was elected to Congress in 1946.

Abraham Lincoln was elected President in 1860.
John F. Kennedy was elected President in 1960.

The names Lincoln and Kennedy each contain seven letters.
Both were particularly concerned with civil rights.
Both wives lost a son while living in the White House.

Both Presidents were shot on a Friday.
Both were shot behind the head.


Here is an interesting one...
Lincoln's secretary was named Kennedy.
Kennedy's secretary was named Lincoln.

Both were assassinated by Southerners.
Both were succeeded by Southerners.

Both successors were named Johnson.
Andrew Johnson, who succeeded Lincoln, was born in 1808.
Lyndon Johnson, who succeeded Kennedy, was born in 1908.

John Wilkes Booth, who assassinated Lincoln was born in 1839.
Lee Harvey Oswald, who assassinated Kennedy was born in 1939.

Both assassins were known by their three names.
Both names are made of fifteen letters.

Mr. Booth shot Lincoln in a Theatre called "Ford".
Lee Harvey Oswald, shot Kennedy in a car called "Ford" Lincoln.

Booth ran from a theater and was caught in a warehouse.
Oswald ran from a warehouse and was caught in a theater.

Booth and Oswald were assassinated before their trials.

And last but not least,
A month before Lincoln was shot he was in Monroe, Maryland.
A month before Kennedy was shot he was with Marilyn Monroe.

Tuesday, April 27, 2004

Tiger Woods

OLAHRAGAWAN DENGAN BAYARAN PALING TINGGI

Para olahragawan top dunia sangat kaya, baik dengan cara mengikuti pertandingan maupun tidak. Disamping mendapatkan dana sponsor yang sangat besar, perusahaan asuransi pun menjamin mereka dengan sangat mahal untuk segala macam jenis cedera. Ketika Michael Schumacher mengalami cedera kaki pada saat kecelakaan di arena Formula-1 tahun lalu, dia mendapatkan tanggungan asuransi sebesar $3 juta per bulan. Ketika Michael Jordan mengundurkan diri dari arena olahraga, Schumacher masih tetap peringkat atas dalam mendapat bayaran paling tinggi di dunia olahraga. Jumlah nilai cek yang didapat per tahunnya diikuti oleh Tiger Woods dan Arnold Palmer. Berdasarkan majalah Forbes, Martina Hingis adalah olahragawan wanita yang paling tinggi bayarannya di dunia saat ini.