Don't Sweat the Small Stuff Part 1
DON'T LOSE YOUR FOCUS
Create a bridge between your spirituality and your work. If kindness, patience, honesty and generosity are spiritual qualities you believe in, make every effort to practice them at the office.
Work is the perfect environment to extend your spirituality—in the way you greet people and deal with conflict, how you sell a product or balance ethics and profit. Practicing these virtues will put your problems into a broader context and help Avoid gossip. This may nor seem like a big deal—until you stop to consider how much time and energy you spend engaged in conversations that are not relevant to your work. Of course, there are times when want to chat with friends or co-workers. The trick is to make sure that it’s out of choice, not habit. The hour you gain back could mean a peaceful week instead of a stressful one.
Let go of personality clashes. Certain types of people are difficult to work with—for me, it's pushy or hyperactive people. So I think of getting along with people as part of my job description. In other words, rather than writing off the relationship, I take responsibility for making it work. Think of yourself and your coworkers as characters in a play, each with his or her own role. The differences help make life interesting.
The Road of Life is Long, But One Day It will come to A Stop. So Treasure It before it Ends
Tuesday, June 08, 2004
Friday, May 14, 2004
Tentang Tidur
3rd : Tidur :
well, urusan kerjaan bikin gw tambah jutek. Untung gw masih punya temen-temen yang "lucu" sekaligus ancuurrr..
Tulisan ini gw buat jum'at dinihari, kerajinan apa kurang kerjaan ya,...! Yang jelas dinihari itu, gw cekikian sendiri ngebayangin "gaya" orang-orang yang ketiduran. Satpam yang lagi keliling, nyangkain gw kuntilanak kali ya...
Tidur
Tidur adalah kebutuhan dasar dari setiap yang hidup. Tidak hanya manusia, tumbuhan, hewan butuh tidur. Tanaman Putri Malu (Mimosa Pudica) mempunyai waktu tidur yang relative sama dengan manusia, begitu matahari terbenam, perlahan dia akan mengatupkan daun-daunnya, untuk tidur, tidak lagi melakukan proses fotosintesa.
Perkecualian jika, manusia ataupun sesuatu yang lain menyentuhnya, segera ia akan mengatupkan daun-daunnya. Fenomena yang sama juga ada pada manusia, jika dalam keadaan terjaga kemudian "disentuh", bisa juga tertidur. (Apa coba! Jangan ngeres lho! Anak saya yang terkecil, sebelum tidur selalu minta disentuh, diisik-isik, istilah Jawanya, gak ngeres kaan..)
Begitupun dengan hewan, juga memiliki jam-jam biologis yang umumnya sama. Siang beraktifitas malam beristirahat alias tidur, memang demikian firman Tuhan, sang Khalik untuk semua makhluknya. Beberapa perkecualian memang ada pada beberapa hewan, kalelawar misalnya, yang justru beraktifitas dimalam hari, juga si-OWL, burung hantu, salah satu teman si Beruang Winnie de Pooh, tokoh kartun yang sangat popular. Singkat kata, tidur adalah sesuatu yang wajar dan normal-normal saja jika dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.
Bagaimana kalau tidur kita tidak pada waktu dan tempat yang tepat?
Dulu, sewaktu kuliah, ada beberapa mata kuliah yang diadakan pagi-pagi sekali, 7.30. Biasanya pagi-pagi sekali kita sudah harus meninggalkan rumah menuju kampus yang kebetulan berada dipinggiran kota. Menjadi lebih pagi lagi, jika musim-musim Mid Semester, ataupun Ujian Akhir. Dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam), semakin sempurna sudah waktu tidur mengalami defisit besar malam itu. Ini konsekuensi dari sistem SKS, untungnya mid dan UAS hanya satu kali salam satu semester, coba kalau setiap hari.., bukan masalah kapan kuliahnya, tapi kapan tidurnya?
Akibatnya, baru terasa ketika pulang. Ketika harus bergelantungan didalam Bus Kuning (Bus Kampus) mungkin masih enak, perbincangan soal ujian sama hebohnya dengan urusan "gebetan" di fakultas tetangga, kesengsaraan "bergelayutan" dibus, sirna begitu ketemu ketemu sang PH (Pujaan Hati, Bo!!). Begitu harus bergantungan di kendaraan umum, mulailah penderitaan berawal, dalam mini-bus yang sudah karatan (untungnya kursi dan sandarannya masih berlapis busa), mana mungkin ngobrol bersaing dengan suara mesin yang memekakkan telinga, mau teriak-teriak biar seluruh penumpang bus tahu urusan kita? No way! Bisa dapat tempat duduk, sama aja dapat rejeki nomplok.
Jadilah dalam bus yang pengap dan panas, berisik, gak nyaman buat ngobrol, kita semua terdiam, dari bengong (mana habis begadang semalaman lagi!) sampai menghayal dan akhirnya zzzz… tertidur , sambil gelantungan, meliuk kekanan kekiri seiring tikungan dan kelokan disepanjang jalan. Tarzan aja gak gitu! Hanya injakan pedal rem dan sentakan tarikan gas yang mengacaukan "tarian tidur" ini. Masih untung gak "digerayangin" pencopet. Tapi itulah untungnya, pumpung mahasiswa, gelantungan sambil tidur juga aman (asal tangan tetap pegangan, siapa yang mau pegangin,coba!), gak ada harta benda berharga (jaman dulu gak ada tuh HP) yang bakal raib gara-gara tidur.
Gara-gara tidur juga, teman saya bener-bener malu karena secara gak sengaja kedapatan tertidur di kantor. Kepala boleh tegak, tangan boleh tetap menggenggam mouse, tapi koq gak bergerak-gerak sejak tadi. Parahnya lagi "screen saver" layar monitor sudah bekerja, wah ada yang gak beres nih…., tinggal pilih cara buat bangunkan ayam tidur ini. Kalau lagi iseng sih suka kita jahilin, mulai dari kita telp ke ekstensinya, sampai kita buat dia kaget seolah-olah bos tiba-tiba datang. Kalau sudah gini biasanya dia akan tersentak kaget, sambil linglung…, untungnya refleknya masih bagus, tangan yang masih nempel di mouse langsung bergerak, jadi layar monitor langsung aktif lagi, amaaannn, bos gak bakal tahu..
Itu di kantor, dijalan, lain lagi. Pernah dong naik Angkot (Angkutan Kota), Coba deh duduk dibelakang Pak Supir, persis berhadapan pintu masuk yang selalu terbuka. Wow, enak banget tuh, sandarannya mapan, karena langsung berbatasan dengan pembatas bodi mobil antara supir dan tempat duduk penumpang, terus semilir angin seperti sengaja membuat kita benar-benar mendengar senandung nina bobo. Berhubung perjalanan masih jauh aman deh, zzz..zzzzzzz.., mulai kepala ditekuk, badan mulai bongkok dan doyong…, doyong.., tiba-tiba,..ciiiiittttttttttttt, pedal rem tiba-tiba ditekan, hampir saja terlempar keluar, saking kagetnya hanya bisa berucap, massyaallah, untung gak jadi kelempar keluar… , duh jangan lagi-lagi deh!
Masih dijalan, banyak Angkot Pribadi alias "omprengan" yang mangkal persis disebelah Univ. Atmajaya, yang mengantarkan banyak karyawan kerumah-rumah mereka didaerah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, Pondok Gede, Depok dll. Banyak orang yang memanfaatkan perjalanan yang cukup panjang dan lama ini dengan tidur, baik disengaja memejamkan mata sampai yang tidak sengaja terpejam. Apalagi kondisi benar-benar memungkinkan. Kalau pas untung dapat mobil yang bagus, ber-ac sekaligus dilengkapi dengan "bunyi-bunyian" yang enak didengar, mulai dari lagu-lagu nostalgia jaman kuda, sampai dangdut yang memang sedang popular. Cuma sebelnya, mungkin saking nikmatnya seseorang tertidur , mula-mula "kepala"nya jatuh dibahu saya, ih enak banget nih orang.., trus gak rela dong bahu saya digratisin gitu, majulah saya dikit, gak pa-apalah, pegel-pegel gak bersandar, paling cuma sebentar. Perkiraan saya salah, ruang kosong dibelakang saya ternyata justru membuat dia semakin menekukkan badan, terus semakin doyong ke kakan (dia ada disebelah kiri saya), doyong lagi.., terus…, sampai hampir setengah rebah. Gila nih orang, bener-bener gak sadar lingkungan, habis minum pil tidur kali, sampai sebegitu "singit"-nya bak putaran gasing yang hampir sampai pada akhirnya, kemudian jatuh terkulai…
Apes, saya Cuma berharap semoga dia gak ngiler.., ntar nempel deh dibaju.
Posisi tidur orang kalau dilihat memang bener-bener bisa bikin ketawa. Mulai dari yang sopan dan santun, dengan menutup muka dengan telapak tangannya, atau menutup mulut dengan saputangannya, kuatir ketahuan ngiler, jadi kalau ngiler bisa langsung dilap. Terus mulai dari doyong-doyong dikit, sampai yang badan ditekuk nyaris bongkok, juga sampai akhirnya kepala yang tengadah, disandarkan ke sandaran jok, dan membuat mulut terngaga sampai nampaklah gigi dan rahangnya yang nggilani sekaligus menyeramkan.
Coba perhatikan, pasti cekikian sendiri ….
Kebetulan saya jarang-jarang tuh tertidur dijalan, kalau gak terpaksa amat. Sekali waktu pernah juga sih "kecolongan". Pas naik Kopaja, kebetulan agak sepi, tiba-tiba lep.., terlelap. Gak tahu lama apa enggak, soalnya saya tertidur (gak pake ngiler lho!) Tiba-tiba, terdengar suara rebut-ribut, masih bengong, saya perhatikan sekitar, berhubung sepi saya gak bisa nanya ke orang terdekat saya. Tapi dari omongan supir dan beberapa penumpang dibagian depan, saya baru sadar kalau sebenarnya tadi ada seorang yang bermaksud menodong seluruh penumpang bus, tapi berhubung Pak Supir waspada dan tahu gelagat yang gak baik, dia langsung menghentikan mobilnya persis didepan kantor polisi. Dan itu membuat pelaku gak punya nyali untuk meneruskan perbuatannya.
Kali ini saya benar-benar dibuat "aman" oleh ketiduran saya. Coba kalau saya tetap melek, bisa keringat dingin yang keluar. Untungnya Cuma keringat gerah, karena kepanasan…..
well, urusan kerjaan bikin gw tambah jutek. Untung gw masih punya temen-temen yang "lucu" sekaligus ancuurrr..
Tulisan ini gw buat jum'at dinihari, kerajinan apa kurang kerjaan ya,...! Yang jelas dinihari itu, gw cekikian sendiri ngebayangin "gaya" orang-orang yang ketiduran. Satpam yang lagi keliling, nyangkain gw kuntilanak kali ya...
Tidur
Tidur adalah kebutuhan dasar dari setiap yang hidup. Tidak hanya manusia, tumbuhan, hewan butuh tidur. Tanaman Putri Malu (Mimosa Pudica) mempunyai waktu tidur yang relative sama dengan manusia, begitu matahari terbenam, perlahan dia akan mengatupkan daun-daunnya, untuk tidur, tidak lagi melakukan proses fotosintesa.
Perkecualian jika, manusia ataupun sesuatu yang lain menyentuhnya, segera ia akan mengatupkan daun-daunnya. Fenomena yang sama juga ada pada manusia, jika dalam keadaan terjaga kemudian "disentuh", bisa juga tertidur. (Apa coba! Jangan ngeres lho! Anak saya yang terkecil, sebelum tidur selalu minta disentuh, diisik-isik, istilah Jawanya, gak ngeres kaan..)
Begitupun dengan hewan, juga memiliki jam-jam biologis yang umumnya sama. Siang beraktifitas malam beristirahat alias tidur, memang demikian firman Tuhan, sang Khalik untuk semua makhluknya. Beberapa perkecualian memang ada pada beberapa hewan, kalelawar misalnya, yang justru beraktifitas dimalam hari, juga si-OWL, burung hantu, salah satu teman si Beruang Winnie de Pooh, tokoh kartun yang sangat popular. Singkat kata, tidur adalah sesuatu yang wajar dan normal-normal saja jika dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.
Bagaimana kalau tidur kita tidak pada waktu dan tempat yang tepat?
Dulu, sewaktu kuliah, ada beberapa mata kuliah yang diadakan pagi-pagi sekali, 7.30. Biasanya pagi-pagi sekali kita sudah harus meninggalkan rumah menuju kampus yang kebetulan berada dipinggiran kota. Menjadi lebih pagi lagi, jika musim-musim Mid Semester, ataupun Ujian Akhir. Dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam), semakin sempurna sudah waktu tidur mengalami defisit besar malam itu. Ini konsekuensi dari sistem SKS, untungnya mid dan UAS hanya satu kali salam satu semester, coba kalau setiap hari.., bukan masalah kapan kuliahnya, tapi kapan tidurnya?
Akibatnya, baru terasa ketika pulang. Ketika harus bergelantungan didalam Bus Kuning (Bus Kampus) mungkin masih enak, perbincangan soal ujian sama hebohnya dengan urusan "gebetan" di fakultas tetangga, kesengsaraan "bergelayutan" dibus, sirna begitu ketemu ketemu sang PH (Pujaan Hati, Bo!!). Begitu harus bergantungan di kendaraan umum, mulailah penderitaan berawal, dalam mini-bus yang sudah karatan (untungnya kursi dan sandarannya masih berlapis busa), mana mungkin ngobrol bersaing dengan suara mesin yang memekakkan telinga, mau teriak-teriak biar seluruh penumpang bus tahu urusan kita? No way! Bisa dapat tempat duduk, sama aja dapat rejeki nomplok.
Jadilah dalam bus yang pengap dan panas, berisik, gak nyaman buat ngobrol, kita semua terdiam, dari bengong (mana habis begadang semalaman lagi!) sampai menghayal dan akhirnya zzzz… tertidur , sambil gelantungan, meliuk kekanan kekiri seiring tikungan dan kelokan disepanjang jalan. Tarzan aja gak gitu! Hanya injakan pedal rem dan sentakan tarikan gas yang mengacaukan "tarian tidur" ini. Masih untung gak "digerayangin" pencopet. Tapi itulah untungnya, pumpung mahasiswa, gelantungan sambil tidur juga aman (asal tangan tetap pegangan, siapa yang mau pegangin,coba!), gak ada harta benda berharga (jaman dulu gak ada tuh HP) yang bakal raib gara-gara tidur.
Gara-gara tidur juga, teman saya bener-bener malu karena secara gak sengaja kedapatan tertidur di kantor. Kepala boleh tegak, tangan boleh tetap menggenggam mouse, tapi koq gak bergerak-gerak sejak tadi. Parahnya lagi "screen saver" layar monitor sudah bekerja, wah ada yang gak beres nih…., tinggal pilih cara buat bangunkan ayam tidur ini. Kalau lagi iseng sih suka kita jahilin, mulai dari kita telp ke ekstensinya, sampai kita buat dia kaget seolah-olah bos tiba-tiba datang. Kalau sudah gini biasanya dia akan tersentak kaget, sambil linglung…, untungnya refleknya masih bagus, tangan yang masih nempel di mouse langsung bergerak, jadi layar monitor langsung aktif lagi, amaaannn, bos gak bakal tahu..
Itu di kantor, dijalan, lain lagi. Pernah dong naik Angkot (Angkutan Kota), Coba deh duduk dibelakang Pak Supir, persis berhadapan pintu masuk yang selalu terbuka. Wow, enak banget tuh, sandarannya mapan, karena langsung berbatasan dengan pembatas bodi mobil antara supir dan tempat duduk penumpang, terus semilir angin seperti sengaja membuat kita benar-benar mendengar senandung nina bobo. Berhubung perjalanan masih jauh aman deh, zzz..zzzzzzz.., mulai kepala ditekuk, badan mulai bongkok dan doyong…, doyong.., tiba-tiba,..ciiiiittttttttttttt, pedal rem tiba-tiba ditekan, hampir saja terlempar keluar, saking kagetnya hanya bisa berucap, massyaallah, untung gak jadi kelempar keluar… , duh jangan lagi-lagi deh!
Masih dijalan, banyak Angkot Pribadi alias "omprengan" yang mangkal persis disebelah Univ. Atmajaya, yang mengantarkan banyak karyawan kerumah-rumah mereka didaerah pinggiran Jakarta seperti Bekasi, Pondok Gede, Depok dll. Banyak orang yang memanfaatkan perjalanan yang cukup panjang dan lama ini dengan tidur, baik disengaja memejamkan mata sampai yang tidak sengaja terpejam. Apalagi kondisi benar-benar memungkinkan. Kalau pas untung dapat mobil yang bagus, ber-ac sekaligus dilengkapi dengan "bunyi-bunyian" yang enak didengar, mulai dari lagu-lagu nostalgia jaman kuda, sampai dangdut yang memang sedang popular. Cuma sebelnya, mungkin saking nikmatnya seseorang tertidur , mula-mula "kepala"nya jatuh dibahu saya, ih enak banget nih orang.., trus gak rela dong bahu saya digratisin gitu, majulah saya dikit, gak pa-apalah, pegel-pegel gak bersandar, paling cuma sebentar. Perkiraan saya salah, ruang kosong dibelakang saya ternyata justru membuat dia semakin menekukkan badan, terus semakin doyong ke kakan (dia ada disebelah kiri saya), doyong lagi.., terus…, sampai hampir setengah rebah. Gila nih orang, bener-bener gak sadar lingkungan, habis minum pil tidur kali, sampai sebegitu "singit"-nya bak putaran gasing yang hampir sampai pada akhirnya, kemudian jatuh terkulai…
Apes, saya Cuma berharap semoga dia gak ngiler.., ntar nempel deh dibaju.
Posisi tidur orang kalau dilihat memang bener-bener bisa bikin ketawa. Mulai dari yang sopan dan santun, dengan menutup muka dengan telapak tangannya, atau menutup mulut dengan saputangannya, kuatir ketahuan ngiler, jadi kalau ngiler bisa langsung dilap. Terus mulai dari doyong-doyong dikit, sampai yang badan ditekuk nyaris bongkok, juga sampai akhirnya kepala yang tengadah, disandarkan ke sandaran jok, dan membuat mulut terngaga sampai nampaklah gigi dan rahangnya yang nggilani sekaligus menyeramkan.
Coba perhatikan, pasti cekikian sendiri ….
Kebetulan saya jarang-jarang tuh tertidur dijalan, kalau gak terpaksa amat. Sekali waktu pernah juga sih "kecolongan". Pas naik Kopaja, kebetulan agak sepi, tiba-tiba lep.., terlelap. Gak tahu lama apa enggak, soalnya saya tertidur (gak pake ngiler lho!) Tiba-tiba, terdengar suara rebut-ribut, masih bengong, saya perhatikan sekitar, berhubung sepi saya gak bisa nanya ke orang terdekat saya. Tapi dari omongan supir dan beberapa penumpang dibagian depan, saya baru sadar kalau sebenarnya tadi ada seorang yang bermaksud menodong seluruh penumpang bus, tapi berhubung Pak Supir waspada dan tahu gelagat yang gak baik, dia langsung menghentikan mobilnya persis didepan kantor polisi. Dan itu membuat pelaku gak punya nyali untuk meneruskan perbuatannya.
Kali ini saya benar-benar dibuat "aman" oleh ketiduran saya. Coba kalau saya tetap melek, bisa keringat dingin yang keluar. Untungnya Cuma keringat gerah, karena kepanasan…..
Sunday, May 09, 2004
Fenomena "Reality Show"
2nd : A-EF-I
Gak terasa, hampir 2 minggu saya gak sempat ngurusi mainan saya yang baru, blog ini. Kalau dibilang gak punya waktu, itu klise. Waktu itu gratis, sudah disediakan oleh Tuhan buat kita semua sama, sehari 24 jam! Bedanya, rela tidaknya kita menempatkan satu urusan/kepentingan disela-sela waktu yang ada. Soalnya kalau dipaksa-paksa, pasti tetap ada waktu untuk satu atau lain hal. Kebetulan belakangan ini saya memang sedang tidak bisa mengorbankan waktu saya, itu saja!
Niatnya sih , pingin titipin beberapa file dibeberapa penyedia penitipan file gratisan, terus juga membenahi halaman ini, biar lebih lengkap lagi. Tapi ya itu tadi, ya saya gak bisa korbankan waktu saya untuk hal ini. Sementara ini, saya masih punya waktu untuk menambah sedikit catatan kecil malam ini, sekedar membuktikan bahwa page ini masih tak rumat.
Sabtu, 8 Mei 2004
Malam ini, baru saja saya selesai menonton tayangan AFI Indosiar, jadi mau malu ikutan ngerame-in acaranya anak muda, he..he..he.. Beberapa bulan terakhir memang salah satu aktifitas rutin saya setiap malam minggu, ya nongkrongin channel-nya Indosiar mulai jam 8 malam, gak pindah-pindah… ! Paling-paling pindah bentaran ke chanel lain kalau pas jeda iklan. (gile ye, segitunya…, ketularan demam AFI, hua..ha..ha…) Cuma bedanya malem ini, share dengan TransTV, nonton bulutangkis, tim Thomas Indonesia-AS. Terus bedanya lagi, bisa-bisanya malam ini, nih air-mata kok ya ikut-ikutan nyerobot nongol didepan ti-vi di penghujung acara, tepatnya pas pengumuman eliminasi. Hik..hik..hik…nangis lho maksudnya!
Seingat saya sih dari berkali-kali nonton Konser AFI , gak pernah tuh, airmata ikutan gabung. Gak tahu, mungkin perasaan saya memang pas lagi mengharu biru atau acaranya yang memang bagus, bisa mengacak dan mengaduk-aduk emosi penonton. Yang jelas, malam ini kamerawan acara itu memang kelihatan lebih sabar dan telaten menyoroti luapan emosi si akademia yang tereliminasi dan sentimen emosi seluruh penonton yang ada disana. Mulai dari sedu sedan sesama rekan akademia, histeria para penonton dari anak kecil sampai ibu-ibu, sampai lelehan air mata staf pengajarnya yang juga ikut bercucuran, dipamerin habis oleh kru-kamerawannya. Hebat!!!! Semua yang nonton, bisa ikut-ikutan involve pada satu perasaan yang sama. Bisa jadi detik-detik atau menit-menit itu mereka lupa dengan masalahnya sendiri, yang mungkin lebih parah atau lebih complicated dari sekedar perasaan tereliminasi. Sensasi perasaan yang ditimbulkan memang cuma terasa pada beberapa detik atau menit saat itu, tapi efeknya, wow..!!!Demam AFI..!
Bayangkan, berapa banyak ABG yang tiba-tiba getol ikut-ikutan jadi penyanyi dadakan, berapa banyak tabloid yang tiba-tiba punya begitu banyak bahan untuk memenuhi isi tabloidnya, berapa banyak orang-orang yang dengan sukarela merogoh kocek buat sekedar mengikuti liputan tulisan tentang para akademia di media-media cetak, atau berapa banyak orang yang dengan sukarela meluangkan waktu buat sekedar nonton konser baik langsung maupun di televisi, sampai akhirnya berapa banyak orang yang serta merta juga ikut-ikutan membeli kaset ataupun CD-nya. Gila, ya! Bayangin, uang yang beredar akibat dari acara ini. Kalau dipikir, gak susah ya cari duit, yang bodo ujung-ujungnya ya kita-kita yang ikut-ikutan beli tabloid, atau beli kaset/CD-nya. Kalau sekedar nonton TV, bolehlah.. relatif gak perlu biaya, toh sudah dibayar oleh pemasang iklan di slot acara itu.
Terus terang, saya gak gitu ngeh dengan efek dari acara ini, sampai suatu saat anak saya bilang kepingin punya album AFI seperti yang dimiliki temannya. Saya fikir yang namanya album, ya kumpulan foto. Gampang aja, saya langsung buka komputer, colok kabel modem ke jack telpon, masuk kesitusnya Indosiar, truss.., nemu dong foto-foto para akademia beserta info singkatnya, tinggal copy–paste, selesailah albumnya. Ternyata bukan itu. (Wah, saya memang terlalu creative!) Anak saya bilang album itu ya CD dan VCD-nya AFI, gak cukup sekedar foto! Saya lupa, bahwa kata-kata Album bisa juga berarti keping kaset, CD atau VCD yang berisi kumpulan lagu-lagu, dari seorang atau berapa artis. Oalaaahhhh...
Masih untung dia gak minta ikutan nonton Konser AFI seperti yang dilakukan oleh temannya bersama orang-tuanya!
Gak terasa, hampir 2 minggu saya gak sempat ngurusi mainan saya yang baru, blog ini. Kalau dibilang gak punya waktu, itu klise. Waktu itu gratis, sudah disediakan oleh Tuhan buat kita semua sama, sehari 24 jam! Bedanya, rela tidaknya kita menempatkan satu urusan/kepentingan disela-sela waktu yang ada. Soalnya kalau dipaksa-paksa, pasti tetap ada waktu untuk satu atau lain hal. Kebetulan belakangan ini saya memang sedang tidak bisa mengorbankan waktu saya, itu saja!
Niatnya sih , pingin titipin beberapa file dibeberapa penyedia penitipan file gratisan, terus juga membenahi halaman ini, biar lebih lengkap lagi. Tapi ya itu tadi, ya saya gak bisa korbankan waktu saya untuk hal ini. Sementara ini, saya masih punya waktu untuk menambah sedikit catatan kecil malam ini, sekedar membuktikan bahwa page ini masih tak rumat.
Sabtu, 8 Mei 2004
Malam ini, baru saja saya selesai menonton tayangan AFI Indosiar, jadi mau malu ikutan ngerame-in acaranya anak muda, he..he..he.. Beberapa bulan terakhir memang salah satu aktifitas rutin saya setiap malam minggu, ya nongkrongin channel-nya Indosiar mulai jam 8 malam, gak pindah-pindah… ! Paling-paling pindah bentaran ke chanel lain kalau pas jeda iklan. (gile ye, segitunya…, ketularan demam AFI, hua..ha..ha…) Cuma bedanya malem ini, share dengan TransTV, nonton bulutangkis, tim Thomas Indonesia-AS. Terus bedanya lagi, bisa-bisanya malam ini, nih air-mata kok ya ikut-ikutan nyerobot nongol didepan ti-vi di penghujung acara, tepatnya pas pengumuman eliminasi. Hik..hik..hik…nangis lho maksudnya!
Seingat saya sih dari berkali-kali nonton Konser AFI , gak pernah tuh, airmata ikutan gabung. Gak tahu, mungkin perasaan saya memang pas lagi mengharu biru atau acaranya yang memang bagus, bisa mengacak dan mengaduk-aduk emosi penonton. Yang jelas, malam ini kamerawan acara itu memang kelihatan lebih sabar dan telaten menyoroti luapan emosi si akademia yang tereliminasi dan sentimen emosi seluruh penonton yang ada disana. Mulai dari sedu sedan sesama rekan akademia, histeria para penonton dari anak kecil sampai ibu-ibu, sampai lelehan air mata staf pengajarnya yang juga ikut bercucuran, dipamerin habis oleh kru-kamerawannya. Hebat!!!! Semua yang nonton, bisa ikut-ikutan involve pada satu perasaan yang sama. Bisa jadi detik-detik atau menit-menit itu mereka lupa dengan masalahnya sendiri, yang mungkin lebih parah atau lebih complicated dari sekedar perasaan tereliminasi. Sensasi perasaan yang ditimbulkan memang cuma terasa pada beberapa detik atau menit saat itu, tapi efeknya, wow..!!!Demam AFI..!
Bayangkan, berapa banyak ABG yang tiba-tiba getol ikut-ikutan jadi penyanyi dadakan, berapa banyak tabloid yang tiba-tiba punya begitu banyak bahan untuk memenuhi isi tabloidnya, berapa banyak orang-orang yang dengan sukarela merogoh kocek buat sekedar mengikuti liputan tulisan tentang para akademia di media-media cetak, atau berapa banyak orang yang dengan sukarela meluangkan waktu buat sekedar nonton konser baik langsung maupun di televisi, sampai akhirnya berapa banyak orang yang serta merta juga ikut-ikutan membeli kaset ataupun CD-nya. Gila, ya! Bayangin, uang yang beredar akibat dari acara ini. Kalau dipikir, gak susah ya cari duit, yang bodo ujung-ujungnya ya kita-kita yang ikut-ikutan beli tabloid, atau beli kaset/CD-nya. Kalau sekedar nonton TV, bolehlah.. relatif gak perlu biaya, toh sudah dibayar oleh pemasang iklan di slot acara itu.
Terus terang, saya gak gitu ngeh dengan efek dari acara ini, sampai suatu saat anak saya bilang kepingin punya album AFI seperti yang dimiliki temannya. Saya fikir yang namanya album, ya kumpulan foto. Gampang aja, saya langsung buka komputer, colok kabel modem ke jack telpon, masuk kesitusnya Indosiar, truss.., nemu dong foto-foto para akademia beserta info singkatnya, tinggal copy–paste, selesailah albumnya. Ternyata bukan itu. (Wah, saya memang terlalu creative!) Anak saya bilang album itu ya CD dan VCD-nya AFI, gak cukup sekedar foto! Saya lupa, bahwa kata-kata Album bisa juga berarti keping kaset, CD atau VCD yang berisi kumpulan lagu-lagu, dari seorang atau berapa artis. Oalaaahhhh...
Masih untung dia gak minta ikutan nonton Konser AFI seperti yang dilakukan oleh temannya bersama orang-tuanya!
Thursday, April 29, 2004
What's in A Name
1st : What's in a name
Ini "Curhat" saya yang pertama, betul-betul pengalaman pribadi.
What's in a name...
Setiap orang pasti punya nama.
Jangan tanya kenapa orang harus punya nama, ribet ntar nulisnya, teori melulu...
Juga jangan tanya, arti.
Bejibun, dari arti harfiah sampai arti kiasan, dari arti sungguhan sampai improvisasi, ngarang seenak udelnya.
Tapi coba bayangkan gimana pengaruh nama terhadap kehidupan kita sendiri.
Mbok Pariyem, di pedalaman gunung kidul sana cuma memilih Carsinem untuk menyebut anak perempuannya, Alm. Syumanjaya sutradara tenar jaman jebot, memilih Djenar Maesa Ayu, untuk putrinya yang cantik, Andre Hehanusa, menamakan Putra Pertama Hehanusa, untuk anak lelakinya yang pertama, sementara Melly Goeslaw menyebut Anakku Lelaki Hoed, untuk putra pertamanya. Seniman wajar donk memilih sesuatu yang nyentrik untuk atribut diri maupun keluarganya. Mungkin karena terkondisikan untuk memilih sesuatu yang tidak biasa, yang nyeleneh, supaya beda.
Lain lagi, si Rek, gak jelas siapa nama dia yang sesungguhnya, mungkin Arek, dari arek-arek Suroboyo, atau Rekoso karena nasibnya yang ndilalah koq rekoso tenan, office boy kantor saya, mungkin karena kesengsem berat sama artis Maudy Koesnadi menempelkan nama pada bancakan anak pertamanya dengan nama Maudy. Entah ada hubungannya atau tidak, koq ya kebeneran anaknya sakit-sakitan melulu, mulai dari umbel-nya yang meler melulu, panasnya yang turun naik, sampai maaf, mencret-mencret, yang terpaksa membuat dia sering bolos kerja. Seorang teman langsung saja nyemprot si Rek ini, dengan kecaman-kecaman konyol, Lu si Rek, kasih nama kebagusan, gak nyebut!
Memang soal nama yang kebagusan kadang-kadang bikin kita geli sendiri. Dulu sewaktu SMP, setiap awal pelajaran selalu dimulai dengan absen. Mulailah, satu persatu nama disebutkan oleh guru, dan kita pasti langsung mencari dan melihat sumber suara yang menyebut Ada Bu, atau Hadir Pak , sambil menghubungkan nama-nama tersebut dengan tampilan fisiknya. Tono, ah.. standar, Benny,ee.. lumayan, Fenny, mm..lumayan manis, Togar, ih..Batak kali tampangnya, sampai-lah dengan suatu nama Margareta, wah pasti cantik nih.., semua anak-anak menoleh, mencari-cari si-empunya nama, dan hkk..hkkk, hampir semua menahan ketawa, termasuk guru, jauh akar dari pohon, maksudnya nama yang indah gak selalu berarti juga tampilan fisik nan elok. Kurang ajar juga mereka yang mentertawakan orang lain. Gak sopan!
Tapi susah juga punya nama yang biasa alias standar-standar saja. Gak tahu kenapa, karena saya tidak pernah berani tanya ke Ibu saya, nama saya adalah gabungan dari 3 anak pakde saya, Endang, Sri dan Nuryanti. Susahnya lagi, semua nama pasaran banget. Gara-gara nama juga tetangga depan rumah saya sampai dibikin repot menahan teriakan, karena ternyata pembantu barunya namanya Endang, gak lucu-kan kalau dia teriak-teriak Ndang, ambilkan pispot, adek, sementara saya dengan santainya duduk-duduk diteras depan rumah saya.
Juga tetangga belakang rumah saya, ndilalah kok pembantunya namanya Endang juga, yang ini sebenarnya saya gak tahu, kalau tidak kebeneran pas acara pengajian dirumahnya, tiba-tiba tetangga saya bilang, Ndang tolong keluarin air minumnya. Saya pikir koq iseng banget nih oramg nyuruh-nyuruh saya, begitu melihat saya bengong, baru dia bilang Maaf Bu Endang, maksud saya pembantu saya, Untung sampai saat ini belum ada pembantu saya yang namanya Endang. Wes pokoknya requirement untuk calon pembantu yang akan bekerja pada saya, nama tidak boleh sama, bisa berabe urusannya nanti. Nasib-nasib!
Masih ada hubungannya dengan Endang juga, waktu SMP kelas satu dulu, ada anak laki-laki yang namanya Joko, namanya juga ABG, semua anak-anak mengolok-olok Joko pacar Endang, sementara saya sebel setengah mati, karena saya memang gak suka. Saking gak sukanya saya lalu mencari tahu orang yang namanya Endang jodohnya siapa (namanya juga anak-anak!), ternyata gak jauh-jauh, ada tetangga rumah orang tua saya, si perempuan namanya Endang dan suaminya.. Joko!. He.., makin gak suka dong sama si Joko-temen SMP itu. Lantas ketika SMA, sahabat saya ternyata mamanya bernama Endang dan suaminya.. Joko Pramono, salah satu petinggi disebuah departemen. Suatu kebetulan yang bener-bener mengusik akal sehat saya..
Sampai akhirnya, ketika saya mulai mendapat job-job menjelang akhir studi saya di perguruan tinggi, disalah satu kantor, seorang teman mengenalkan saya dengan seorang yang bernama.. Joko!. Dengan Joko inilah akhirnya saya benar-benar menyerah dan menerima nasib bahwa jodohnya Endang, ya Joko! Sampai sekarang, 10 tahun sudah kami berjodoh. ***
Esha dan Raihan, dari yang biasa-biasa bukan tidak mungkin ada yang luar biasa
Ini "Curhat" saya yang pertama, betul-betul pengalaman pribadi.
What's in a name...
Setiap orang pasti punya nama.
Jangan tanya kenapa orang harus punya nama, ribet ntar nulisnya, teori melulu...
Juga jangan tanya, arti.
Bejibun, dari arti harfiah sampai arti kiasan, dari arti sungguhan sampai improvisasi, ngarang seenak udelnya.
Tapi coba bayangkan gimana pengaruh nama terhadap kehidupan kita sendiri.
Mbok Pariyem, di pedalaman gunung kidul sana cuma memilih Carsinem untuk menyebut anak perempuannya, Alm. Syumanjaya sutradara tenar jaman jebot, memilih Djenar Maesa Ayu, untuk putrinya yang cantik, Andre Hehanusa, menamakan Putra Pertama Hehanusa, untuk anak lelakinya yang pertama, sementara Melly Goeslaw menyebut Anakku Lelaki Hoed, untuk putra pertamanya. Seniman wajar donk memilih sesuatu yang nyentrik untuk atribut diri maupun keluarganya. Mungkin karena terkondisikan untuk memilih sesuatu yang tidak biasa, yang nyeleneh, supaya beda.
Lain lagi, si Rek, gak jelas siapa nama dia yang sesungguhnya, mungkin Arek, dari arek-arek Suroboyo, atau Rekoso karena nasibnya yang ndilalah koq rekoso tenan, office boy kantor saya, mungkin karena kesengsem berat sama artis Maudy Koesnadi menempelkan nama pada bancakan anak pertamanya dengan nama Maudy. Entah ada hubungannya atau tidak, koq ya kebeneran anaknya sakit-sakitan melulu, mulai dari umbel-nya yang meler melulu, panasnya yang turun naik, sampai maaf, mencret-mencret, yang terpaksa membuat dia sering bolos kerja. Seorang teman langsung saja nyemprot si Rek ini, dengan kecaman-kecaman konyol, Lu si Rek, kasih nama kebagusan, gak nyebut!
Memang soal nama yang kebagusan kadang-kadang bikin kita geli sendiri. Dulu sewaktu SMP, setiap awal pelajaran selalu dimulai dengan absen. Mulailah, satu persatu nama disebutkan oleh guru, dan kita pasti langsung mencari dan melihat sumber suara yang menyebut Ada Bu, atau Hadir Pak , sambil menghubungkan nama-nama tersebut dengan tampilan fisiknya. Tono, ah.. standar, Benny,ee.. lumayan, Fenny, mm..lumayan manis, Togar, ih..Batak kali tampangnya, sampai-lah dengan suatu nama Margareta, wah pasti cantik nih.., semua anak-anak menoleh, mencari-cari si-empunya nama, dan hkk..hkkk, hampir semua menahan ketawa, termasuk guru, jauh akar dari pohon, maksudnya nama yang indah gak selalu berarti juga tampilan fisik nan elok. Kurang ajar juga mereka yang mentertawakan orang lain. Gak sopan!
Tapi susah juga punya nama yang biasa alias standar-standar saja. Gak tahu kenapa, karena saya tidak pernah berani tanya ke Ibu saya, nama saya adalah gabungan dari 3 anak pakde saya, Endang, Sri dan Nuryanti. Susahnya lagi, semua nama pasaran banget. Gara-gara nama juga tetangga depan rumah saya sampai dibikin repot menahan teriakan, karena ternyata pembantu barunya namanya Endang, gak lucu-kan kalau dia teriak-teriak Ndang, ambilkan pispot, adek, sementara saya dengan santainya duduk-duduk diteras depan rumah saya.
Juga tetangga belakang rumah saya, ndilalah kok pembantunya namanya Endang juga, yang ini sebenarnya saya gak tahu, kalau tidak kebeneran pas acara pengajian dirumahnya, tiba-tiba tetangga saya bilang, Ndang tolong keluarin air minumnya. Saya pikir koq iseng banget nih oramg nyuruh-nyuruh saya, begitu melihat saya bengong, baru dia bilang Maaf Bu Endang, maksud saya pembantu saya, Untung sampai saat ini belum ada pembantu saya yang namanya Endang. Wes pokoknya requirement untuk calon pembantu yang akan bekerja pada saya, nama tidak boleh sama, bisa berabe urusannya nanti. Nasib-nasib!
Masih ada hubungannya dengan Endang juga, waktu SMP kelas satu dulu, ada anak laki-laki yang namanya Joko, namanya juga ABG, semua anak-anak mengolok-olok Joko pacar Endang, sementara saya sebel setengah mati, karena saya memang gak suka. Saking gak sukanya saya lalu mencari tahu orang yang namanya Endang jodohnya siapa (namanya juga anak-anak!), ternyata gak jauh-jauh, ada tetangga rumah orang tua saya, si perempuan namanya Endang dan suaminya.. Joko!. He.., makin gak suka dong sama si Joko-temen SMP itu. Lantas ketika SMA, sahabat saya ternyata mamanya bernama Endang dan suaminya.. Joko Pramono, salah satu petinggi disebuah departemen. Suatu kebetulan yang bener-bener mengusik akal sehat saya..
Sampai akhirnya, ketika saya mulai mendapat job-job menjelang akhir studi saya di perguruan tinggi, disalah satu kantor, seorang teman mengenalkan saya dengan seorang yang bernama.. Joko!. Dengan Joko inilah akhirnya saya benar-benar menyerah dan menerima nasib bahwa jodohnya Endang, ya Joko! Sampai sekarang, 10 tahun sudah kami berjodoh. ***
Esha dan Raihan, dari yang biasa-biasa bukan tidak mungkin ada yang luar biasa
Subscribe to:
Posts (Atom)